Apakah Asuransi Itu Lengkap Dari A Sampai Z Beserta Contoh Asuransi

Asuransi menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi sebagian besar industri keuangan di seluruh dunia. Contohnya adalah industri keuangan yang membutuhkan industri asuransi adalah perbankan dan finance.

Selain industri keuangan, masih banyak jenis industri lainnya yang memerlukan jasa asuransi. Misalnya industri pembuatan barang jadi, industri wisata, dan masih banyak lainnya. Artikel ini bertujuan untuk mengenalkan asuransi dengan penjelasan yang sederhana dan simpel.

Pengertian Asuransi

Ada beberapa pengertian asuransi yang dapat dijadikan acuan dalam memahami arti asuransi.

Menurut Mark R. Green (Priciples Of Insurance)

Asuransi adalah suatu unit ekonomi yang menanggulangi resiko dengan cara menggabungkan berbagai pihak yang memiliki situasi yang sama, dalam menghadapi suatu kerugian yang timbul secara tidak diduga ke dalam suatu pengelolaan(economic sense).

Asuransi adalah suatu perjanjian antara penanggung dan tertanggug, dimana penanggung dengan suatu imbalan (consideration) akan mengambil alih beban kerugian keuangan yang dialami oleh tertanggung, yang timbul secara tidak terduga(legal sense).

Robert Mehr (Principles Of Insurance)

Asuransi merupakan suatu alat untuk mengurangi resiko keuangan, dengan cara pengumpulan unit-unit exposure dalam jumlah yang mamadai, untuk membuat agar kerugian individu dapat diperkirakan.

KUH Dagang

Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi, untuk memberikan penggantian kerugian keuangan kepadanya atas suatu kerusakan, kehilangan, keuntungan, yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tidak menentu.

Undang-Undang Nomor 2 tahun 1992

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kerugian keuangan tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti; atau

Untuk melakukan pembayaran sejumlah uang yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Contoh Asuransi

Jenis asuransi sangatlah banyak ragamnya. Untuk memberikan gambaran yang mudah dan agar mudah dimengerti, berikut ini contoh asuransi yang biasa ditemui di tengah-tengah masyarakat

1) Asuransi Kendaraan Bermotor

Asuransi bermotor meliputi dua buah jenis kendaraan bermotor yaitu, asuransi mobil dan asuransi sepeda motor.

Asuransi Mobil

Jika sobat membeli mobil di lembaga jasa keuangan misalnya di bank (bank syariah atau bukan), koperasi, leasing atau finance, atau lembaga jasa keuangan lainnya yang sejenis, dimana pembelian tersebut diangsur dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2 tahun), maka setiap nasabah yang membeli mobil tersebut diwajibkan untuk meng-asuransi-kan mobil yang dibeli tersebut. Asuransi yang dibeli bisa dalam bentuk asuransi TLO (total loss only) atau All Risk / Komprehensive (jaminan yang lebih luas sesuai yang tertera di dalam ikhtisar atau perjanjian asuransi).

Asuransi Sepeda Motor

Seperti halnya asuransi mobil, asuransi sepeda motor biasanya telah melekat dalam pembelian sepeda motor di lembaga perbankan, atau lembaga jasa keuangan lainnya. Namun jaminan yang diperoleh lebih kecil, yaitu hanya TLO (total loss only) saja.

2) Asuransi Kesehatan (AsKes bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil)

Setiap orang yang bekerja sebagai PNS (pegawai negeri sipil) wajib mengikuti program Asuransi Kesehatan yang telah disediakan oleh pemerintah. Besarnya premi telah ditetapkan oleh pemerintah dan secara otomatis dipotong setiap bulannya.

Saat ini ada lembaga yang bernama BPJS sebagai pengganti Asuransi Kesehatan bagi PNS. Sehingga setiap anggota PNS yang dulunya telah mengikuti program AsKes, dianjurkan untuk berganti menjadi BPJS. BPJS itu sendiri sebenarnya diperuntukkan untuk seluruh warga indonesia.

3) Asuransi Kebakaran

Asuransi kebakaran diperuntukkan untuk bangunan. Bangunan yang dimaksud bisa berupa rumah tinggal, gedung, apartemen, hotel, pasar, dan pelbagai jenis bangunan lainnya.

4) Asuransi Kecelakaan Diri (Personal Accident)

Asuransi kecelakaan diri biasanya melekat kepada setiap penumpang yang naik angkutan resmi. Misalnya naik bis, pesawat, dan lain sebagainya. Setahu kami, nilai pertanggungan yang terbesar dalam asuransi kecelakaan diri adalah untuk penumpang pesawat. Nilainya bisa mencapai Rp. 1 milyar.

5) Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan biasanya ditawarkan untuk masyarakat yang menginginkan cover ketika kesehatannya terganggu. Misalnya ketika sakit dan harus rawat inap, melahirkan anak, kecelakaan dan lain sebagainya.

Selain kelima asuransi di atas, masih banyak jenis asuransi lainnya yang tersedia untuk berbagai jenis industri. Misalnya asuransi untuk pembangunan, asuransi pemasangan alat, asuransi pengiriman barang, asuransi pengiriman uang, dan masih banyak lainnya.

Penanggung Asuransi

Di dalam perjanjian asuransi terdapat 2 pihak yang terlibat yaitu penanggung dan tertanggung. Penanggung akan memberikan jaminan penggantian kerugian yang diderita oleh tertanggung selama tertanggung bersedia untuk membayar premi yang telah ditentukan dan bersedia pula mematuhi semua aturan-aturan yang tertuang di dalam perjanjian asuransi.

Penanggung asuransi biasanya adalah sebuah Perusahaan Asuransi.

Pengertian Penanggung Asuransi

Penanggung asuransi merupakan suatu badan usaha asuransi yang memiliki syarat dan ketentuan tertentu. Penanggung asuransi adalah badan usaha yang memiliki usaha di bidang perasuransian yang memberikan jasa asuransi yang akan menerima pembayaran premi asuransi dari tertanggung sesuai dengan syarat dan ketentuan polis asuransi yang disepakati bersama serta bersedia membayar klaim atau penggantian kerugian jika tertanggung mengalami kerugian.

Kepemilikan

Perusahaan perasuransian dapat dimiliki oleh orang per orang warga negara indonesia, badan hukum indonesia, badan hukum asing yang terletak di bidang usaha perasuransian. Kepemilikan oleh badan hukum asing maksimum 80% dari seluruh modal saham. Selanjutnya prosentase kepemilikan pihak asing ini secara berangsur-angsur harus berubah menjadi minoritas, atau dengan kata lain harus indonesisasi (UU No. 21992 pasal 8)

Ruang Lingkup Usaha Asuransi

Ketentuan mengenai lingkup usaha asuransi menganut asas spesialisasi, yaitu dari masing-masing jenis usaha tersebut hanya diselenggarakan oleh satu entiti (perusahaan), yaitu jenis usaha asuransi kerugian hanya oleh perusahaan asuransi kerugian, jenis usaha asuransi jiwa hanya diselenggarakan oleh perusahaan asuransi jiwa. Pemisahan demikian dimaksudkan agar pengelolaan dana dari masing-masing jenis asuransi tidak dicampur aduk, mengingat misalnya untuk dana asuransi jiwa yang sifat kontraknya kebanyakan jangka panjang terpisah dan tidak terpakai untuk menutup kekurangan dana asuransi kerugian, dan sebaliknya. Sedangkan bagi perusahaan reasuransi boleh menyelenggarakan jenis asuransi kerugian dan jiwa, meningat usaha reasuransi jiwa merupakan kontrak reasuransi ganti rugi.

Menurut undang-undang nomor 21992 pasal 4, ruang lingkup kegiatan usaha asuransi adalah sebagai berikut :

1) Perusahaan asuransi kerugian hanya dapat menyelenggarakan usaha dalam bidang asuransi kerugian, termasuk reasuransi

2) Perusahaan asuransi jiwa hanya dapat menyelenggarakan usaha dalam bidang asuransi jiwa, dan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri, dan usaha anuitas, serta menjadi pendiri dan pengurus dana pensiun sesuai dengan peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku

3) Perusahaan reasuransi hanya dapat menyelenggarakan usaha pertanggungan ulang.

Bentuk Hukum Usaha Perasuransian

Menurut undang-undang (UU) No. 21992 pasal 7, bentuk badan hukum yang diperbolehkan bagi perusahaan asuransi adalah :

1) Untuk perusahaan asuransi kerugian dan perusahaan reasuransi, badan hukum yang diperbolehkan adalah perseroan terbatas atau koperasi. Apabila perusahaan itu milik negara, bentuk hukumnya adalah perseroan terbatas dan sering disebut perusahaan perseroan (Persero)

2) Untuk perusahaan asuransi jiwa, bisa berbentuk perseroan terbatas, atau koperasi atau usaha bersama (mutual)

3) Untuk perusahaan broker dan perusahaan adjuster, badan hukum yang diperbolehkan adalah perseroan terbatas atau koperasi.

4) Bagi perusahaan asuransi konsultan aktuaria dan agen asuransi, boleh perseroan terbatas atau koperasi, atau perorangan.

Bentuk hukum perseroan terbatas telah diatur dalam UU no. 1 tahun 1995, sedangkan bentuk hukum koperasi diatur dalam UU no. 12 tahun 1967.

Tidak seperti bentuk hukum perseroan terbatas atau koperasi, yang keduanya telah ada dasar hukum atau undang-undangnya, bentuk hukum usaha bersama atau mutual belum ada aturan perundangannya. Perusahaan asuransi jiwa bersama bumiputera 1912 yang merupakan perusahaan asuransi jiwa tertua di indonesia, yang didirikan pada jaman penjajahan Belanda, keberadaan badan hukum perusahaan tersebut belum ada dasar aturan hukumnya.

Dalam bentuk badan hukum mutual ini pemegang polis sekaligus sebagai pemegang saham, yang berarti keuntungan dari asuransi ini menjadi haknya pemegang polis.

Persyaratan untuk memperoleh izin usaha

Menurut undang-undang (UU) No. 2 tahun 1992 pasal 9, berikut persyaratan untuk membuka usaha di bidang asuransi

1) Setiap pihak yang melakukan usaha perasuransian wajib mendapat ijin usaha dari menteri, kecuali bagi program asuransi sosial

2) Untuk mendapatkan ijin usaha tersebut, harus dipenuhi persyaratan berikut :

2.a) Anggaran dasar

2.b) Sususan Organisasi

2.c) Kepemilikan

2.d) Permodalan

2.e) Keahlian di bidang perasuransian

2.f) Kelayakan Rencana Kerja

2.g) Hal-hal lain yang mendukung pertumbuhan usaha asuransi secara sehat.

3) Dalam hal terdapat kepemilikan pihak asing, maka untuk memperoleh ijin usaha harus memenuhi persyaratan di atas serta ketentuan mengenai batas kepemilikan pihak asing.

Reasuransi

Perusahaan reasuransi adalah perusahaan yang memberikan jasa pertanggunan ulang terhadap resiko yang dihadapi perusahaan asuransi kerugian atau jiwa. (UU No. 21992 pasal 1 ayat 7)

Setiap perusahaan asuransi yang ada di dunia ini tidak akan meninggalkan apa yang namanya perusahaan reasuransi. Kemampuan suatu usaha asuransi untuk mengasuransikan kembali resiko yang ada pada dirinya dapat memperkuat besarnya nilai pertanggungan yang dapat dicover oleh perusahaan asuransi.

Contoh Perusahaan Asuransi

BPJS, PT Asuransi Jasindo, dan masih banyak lainnya

Tertanggung Asuransi

Tertanggung asuransi adalah pihak yang mengalihkan resiko kerugiannya kepada pihak asuransi dengan membayar sejumlah premi yang telah ditentukan oleh pihak asuransi (selaku penanggung) dan disetujui oleh tertanggung asuransi.

Besaran premi yang dibayarkan sangatlah kecil jika dibandingkan dengan resiko yang dialihkan oleh pihak tertanggung. Oleh karena itu biasanya pihak tertanggung diwajibkan mematuhi semua persyaratan yang telah ditentukan oleh penanggung asuransi yang tercantum di dalam polis asuransi dan ikhtisar asuransi.

Kewajiban Tertanggung :

1). Meminimalkan Resiko

Resiko yang dialihkan kepada pihak penanggung harus diminamalkan resikonya. Hal ini sudah menjadi sangat umum bagi seorang tertanggung. Misalnya dalam asuransi mobil, seorang tertanggung biasanya diharuskan memiliki pengamanan ganda bagi mobilnya selain kunci standar dari pabrik. Alarm biasanya akan berbunyi ketika terjadi pembongkaran paksa terhadap isi mobil atau pengambilan paksa terhadap onderdil mobil.

Ini adalah alt nya

Contoh lainnya adalah dalam hal asuransi kebakaran. Dalam harga pertanggungan tertentu, setiap objek yang diasuransikan dengan asuransi kebakaran, diwajibkan memiliki pemadam kebakaran sendiri yang bersifat portable. Isi dari pemadam kebakaran portable ini biasanya berupa karbond dioksida cair (CO2 cair) yang akan memadamkan api ketika terjadi kebakaran. Biasanya jumlah pemada portbale disesuaikan dengan luas bangunan. Misalnya untuk luas bangunan 1000 meter persegi, diwajibkan memiliki 10 pemadam portable.

Ini adalah alt nya

2) Mengamankan Resiko

Selain meminimalkan resiko, setiap tertanggung diwajibkan untuk mengamankan resiko yang telah diasuransikan. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab dari tertanggung dalam hal kepemilikan barang pribadi sebagai harta yang dimilikinya. Contohnya rumah yang diasuransikan dengan asuransi kebakaran, jumlah bahan yang mudah terbakar di dalamnya harus kecil dan terlindungi, misalnya bensin, gas untuk memasak, dan lain-lain harus ditempatkan sedemikian rupa agar tidak mudah terbakar.

Contoh lainnya adalah dalah hal asuransi mobil. Setiap mobil yang berada di rumah, wajib dimasukkan ke dalam garasi, agar tidak mudah dicuri orang atau dirusak oleh orang lain.

3) Tidak Berlawanan Dengan Hukum

Dalam hal objek diasuransikan, penggunaannya harus tidak bertentangan dengan hukum. Misalnya rumah diasuransikan dengan asuransi kebakaran, kemudian suatu saat digunakan untuk perjudian, dan saat itu terjadi kebakaran karena acara perjudian tersebut. Maka kemungkinan besar, akibat kebakaran seperti ini tidak ditanggung oleh asuransi.

Contoh lainnya adalah asuransi mobil. Mobil tidak boleh digunakan untuk kejahatan, misalnya untuk perampokan. Jika mobil mengalami kerusakan dalam menjalankan aksinya untuk merampok, maka kerugian tersebut tidak ditanggung oleh asuransi.

4) Memberitahukan Perubahan Objek Pertanggungan

Dalam hal terjadi perubahan objek pertanggungan, maka tertanggung wajib memberitahukan hal tersebut kepada penanggung.

Contohnya dalam hal asuransi kebakaran untuk rumah tinggal, bila terdapat penambahan ruangan atau tingkat bangunan, maka penambahan tersebut wajib diberitahukan kepada penanggung agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

Contoh lainnya adalah dalam hal asuransi mobil. Jika terjadi perubahan misalnya kaca mobil diganti dengan yang lebih mahal atau spion diganti dengan harga dan merek yang lebih mahal, maka hal itu wajib diberitahukan kepada penanggung. Karena penambahan nilai pertanggungan bisa menyebabkan perubahan perhitungan ketika terjadi klaim nanti.

5) Ikut Menanggung Dalam Hal Kerugian

Dalam hal terjadi kerugian, setiap tertanggung diwajibkan untuk ikut menanggung setiap kerugian yang dideritanya. Hal ini biasanya disebut sebagai “resiko sendiri”. Besaran resiko sendiri tergantung kebijakan dari penanggung dan peraturan pemerintah yang berlaku.

Contohnya adalah dalam hal asuransi mobil, jika terjadi pencurian onderdil mobil, maka tertanggung wajib ikut menanggung kerugian tersebut sebesar 10%. Berikut ini contoh perhitungannya :

Kerugian kehilangan onderdil : Rp. 5 juta.

Resiko sendiri : 10%

Penggantian klaim asuransi = Rp. 5 juta - (Rp. 5 juta x 10%) = Rp. 5.000.000,00 - Rp. 500.000,00 = Rp. 4.500.000,00

6) Membaca Dan Memahami Isi Perjanjian Asuransi

Memahami dan mengerti isi perjanjian asuransi adalah hal wajib bagi tertanggung. Seorang tertanggung hendaknya tidak serta merta menerima perjanjian asuransi tanpa mengerti betul tentang isi perjanjian asuransi tersebut. Ibaratnya seorang tidak seharusnya membeli kucing dalam karung. Isi perjanjian asuransi mengikat kedua belah pihak, baik tertanggung dan penanggung secara hukum. Tertanggung yang mengerti betul isi perjanjian asuransi bisa memberikan argumentasi ketika terjadi klaim yang ditolak misalnya. Atau dapat memberikan syarat dan ketentuan yang lebih baik yang menguntungkan kedua belah pihak.

Seringkali seorang tertanggung merasa bahwa semua kejadian yang menyebabkan kerugian terhadap objek yang diasuransikan, harus menerima penggantian klaim dari pihak asuransi. Padahal semua klaim dapat disetujui dan menerima penggantian jika memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku di dalam polis.

7) Membayar Premi Tepat Waktu

Pembayaran premi wajib dilakukan secara tepat waktu agar cover asuransi dapat langsung berjalan. Jika pembayaran premi melebihi dari jumlah waktu yang ditentukan, biasanya cover asuransi akan berhenti secara sementara dan jika ada kerugian objek asuransi, biasanya tidak akan dicover. Dalam hal ada kebolehan untuk mundur dalam pembayaran premi, hal itu harus diketahui bersama tertanggung dan penanggung.

Contoh : Batas waktu pembayaran premi tanggal 1 Agustus 2017. Jika premi dibayar tertanggung tanggal 5, maka dari tanggal 1 - 4 Agustus 2017, cover asuransi berhenti sementara dan segala kerugian tidak akan dicover. Kecuali ada perjanjian pembayaran premi yang boleh mundur sampai tanggal 6, misalnya. Maka jika ada kerugian objek asuransi pada rentang waktu 1 - 6 agustus 2017, akan tetap dicover, walaupun belum ada pembayaran premi.

Hak-Hak Tertanggung

Selain memiliki kewajiban, seorang tertanggung asuransi juga memiliki hak-hak sebagai berikut :

1) Mengajukan Dan Menerima Pembayaran Klaim

Dalam hal terjadi kerugian, tertanggung berhak mengajukan kerugian tersebut kepada penanggung. Tertanggung akan memberikan semua fakta yang berkaitan dengan kejadian kerugian tersebut. Selanjutnya pihak penanggung akan meninjau apakah semua kejadian tersebut dapat dikategorikan sebagai klaim yang dapat disetujui. Jika klaim tersebut disetujui, maka dalam jangka waktu yang tidak lama, tertanggung akan menerima pembayaran klaim.

2) Minta Penjelasan Tentang Isi Perjanjian Asuransi

Tertanggung berhak untuk mengetahui dengan jelas, isi dari perjanjian asuransi. Jika ada yang tidak paham, tertanggung berhak untuk menanyakan kepada penanggung supaya jelas. Dan penanggung wajib memberikan penjelasan dengan benar dan tidak boleh ada yang ditutupi. Hal ini sangat penting sekali, mengingat cover asuransi bisa tidak berjalan atau terjadi penolakan klaim, dalam hal terjadi pelanggaran baik dari tertanggung maupun penanggung, tergantung dari pelanggaran apa yang terjadi.

3) Mengajukan Pembayaran Premi Dengan Cara Angsuran

Pembayaran premi dalam jumlah tertentu dapat dibayarkan dengan cara angsuran. Hal ini tentu harus dalam jumlah tertentu agar tertanggung tidak terlalu berat dalam hal pembayaran premi tersebut. Tertanggung juga wajib membayar dengan tertib sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditentukan. Jika melampaui dari jadwal waktu angsuran, maka pertanggungan asuransi dapat dihentikan sementara. Jumlah premi yang bisa diangsur tentunya tidaklah yang sangat kecil sekali. Misalnya premi sebesar Rp. 100.000,00 tidak seharusnya diangsur sampai 3 bulan.

Contoh : Premi sebesar Rp. 6.000.000,00 akan dibayar secara angsuran selama 3 bulan dan akan dibayarkan setiap tanggal 1. Maka setiap tanggal 1, premi yang diangsur tersebut harus segera dibayarkan, agar cover asuransi tetap berjalan. Jika pembayaran premi dibayarkan melewati tanggal 1, maka cover asuransi akan berhenti sementara sampai premi angsuran dibayarkan oleh tertanggung.

Premi Dan Rate Asuransi

Premi Asuransi

Premi asuransi adalah biaya yang harus dibayar oleh tertanggung kepada penanggung asuransi selaku pihak yang akan mengganti kerugian objek asuransi yang diderita oleh tertanggung sesuai yang tertulis di dalam perjanjian asuransi.

Sebagaimana telah diketahui secara umum bahwa besaran premi yang dibayarkan nilainya jauh di bawah besaran harga pertanggungan dari objek pertanggungan. Lalu bagaimana mungkin penanggung asuransi yang memiliki jumlah dana terbatas dapat melakukan penggantian kerugian terhadap jumlah objek asuransi yang memiliki nilai lebih besar?

Disinilah salah satu fungsi umum asuransi. Asuransi selaku pihak penanggung kerugian akan mengumpulkan jumlah premi yang sedemikian rupa sehingga jumlahnya dapat digunakan untuk melakukan penggantian kerugian yang diderita tertanggung. Jika dijumlahkan seluruh besaran nilai yang harus ditanggung, tentu penanggung tidak akan sanggup menanggung semua resiko kerugian tersebut. Tetapi dengan perhitungan tertentu, nilai premi yang dikumpulkan oleh penanggung akan sanggup mengkover semua kerugian tertanggung.

Contoh :

Perusahaan asuransi mempunyai modal awal Rp. 100 milyar.

Jumlah nasabah / tertanggung = 1000 orang dengan masing-masing orang memiliki nilai harga pertanggungan sebesar Rp. 1 milyar.

Maka jika dijumlahkan, nilai kemungkinan resiko kerugian yang harus ditanggung oleh penanggung adalah Rp. 1 milyar dikalikan 1000 orang, yang jika dihitung kira-kira Rp. 1 Trilyun.

Bagaimana mungkin suatu perusahaan akan menanggung kerugian Rp. 1 Trilyun sedangkan dirinya sendiri hanya memiliki uang Rp. 100 Milyar?

Kalau dihitung secara nilai keuangan yang dimiliki tentu tidak mungkin resiko sebesar itu akan ditanggung oleh penanggung.

Perusahaan asuransi selaku penanggung sudah mempersiapkan skema bagaimana nilai modal yang sebesar Rp. 100 Milyar dapat mengkover kemungkinan kerugian yang mencapai Rp. 1 Trilyun. Perusahaan asuransi dapat mengkover resiko sebesar tersebut dengan melakukan beberapa hal berikut :

1) Bekerja sama dengan reasuransi

Reasuransi adalah mengasuransikan kembali resiko yang diterima perusahaan asuransi, sehingga tingkat resiko yang dicover dapat memiliki nilai harga pertanggungan yang jauh lebih besar dari modal keuangan yang dimiliki. Jika memang bagus perhitungan reasuransinya, bisa memiliki rekanan reasuransi yang dapat mengkover resiko dengan nilai pertanggungan 1000 kali lipat dari modal uang yang dimiliki. Hal ini tentu membutuhkan keahlian dari bagian reasuransi suatu perusahaan asuransi.

Rekanan reasuransi biasanya akan dibuat selama satu tahun oleh perusahaan asuransi pada setiap awal tahunnya. Sehingga dalam satu tahun ke depan secara otomatis perusahaan asuransi dan rekanan reasuransi telah sepakat untuk menanggung resiko secara bersama-sama.

Contoh :

Satu perusahaan asuransi akan mengkover resiko sebesar Rp. 200 milyar. Perusahaan asuransi akan membuat skema asuransi, dimana resiko yang ditanggung sendiri hanya sebesar 10% dari resiko tersebut. Sehingga resiko yang hanya akan ditanggung hanyalah Rp. 2 milyar. Sedangkan sisanya akan ditanggung oleh rekanan reasuransi.

2) Koasuransi

Koasuransi merupakan mekanisme dimana satu resiko asuransi akan dicover secara bersama dengan beberapa perusahaan asuransi. Setiap perusahaan asuransi akan menanggung resiko sesuai dengan besaran bagian yang telah disepakatinya. Koasuransi biasanya dilakukan tanpa perjanjian terlebih dahulu. Suatu perusahaan asuransi akan memberikan penawaran kepada perusahaan asuransi lainnya, jika ada resiko asuransi yang terlalu besar untuk ditanggungnya sendiri.

Contoh :

Suatu perusahaan asuransi menerima penawaran resiko objek pertanggungan sebesar Rp. 10 Milyar. Untuk memperkuat nilai pertanggungan yang akan dicover, suatu perusahaan asuransi akan melakukan penawaran koasuransi kepada asuransi lainnya.

Nilai pertanggungan : Rp. 10 milyar

Asuransi satu mengkover 40% = Rp. 4 Milyar

6 Perusahaan asuransi lainnya masing-masing memiliki kemampuan cover sebesar Rp. 1 Milyar. (Masing-masing 10% dari total nilai pertanggungan).

Tarif Asuransi

Tarif asuransi biasanya dihitung dalam hitungan prosentase. Besaran prosentase setiap objek pertanggungan berbeda-beda. Tarif asuransi biasanya sudah standar, sehingga setiap perusahaan asuransi seharusnya memiliki tarif yang sama untuk setiap objek pertanggungan yang sama. Biasanya tarif asuransi sudah dibuat standar untuk seluruh perusahaan asuransi di bawah payung OJK (Otoritas Jasa Keungan). Jika ada perubahaan, pihak OJK akan memberikan pemberitahuan kepada setiap perusahaan asuransi.

Dengan besar tarif yang sudah ditetapkan, diharapkan perusahaan asuransi sudah mampu untuk mengkover semua resiko pertanggungan tersebut. Agar hal itu terwujud, maka setiap penanggung asuransi harus memiliki jumlah premi yang banyak dan diperkirakan akan mencukupi jika terjadi kerugian suatu saat nanti.

Contoh :

Tarif asuransi untuk rumah tinggal adalah 0,58 permill (per seribu). Harga pertanggungan Rp. 100 juta.

Perhitungan Premi :

Rp. 100 juta x 0,58 permill = Rp. 58.000,00

Jika rumah yang dicover hanya 10.000 buah dalam setahun, maka jumlah premi yang dikumpulkan dalam setahun hanyalah Rp. 580.000.000. Tentu hal ini sangat jauh dari mencukupi karena total resiko pertanggungan yang akan dicover adalah Rp. 1 Trilyun.

Solusinya adalah menambahkan objek resiko lainnya, seperti mobil, gedung, apartemen, dan resiko lainnya yang dapat dicover asuransi.

Tarif Resiko Berdampingan

Tarif asuransi suatu objek pertanggungan dipengarui oleh objek resiko sekelilingnya. Jika tarif resiko objek sekelilingnya lebih besar, maka tarif resikonya bisa naik sesuai tarif objek sekelilingnya tersebut. Namun jika tarif resiko sekelilingnya lebih kecil dari tarif resiko objek yang akan diasuransikan, maka tarifnya tidak berubah.

Contoh :

Objek utama pertanggungan : Rumah tinggal.

Tarif resiko : 0,58 permill (per seribu)

Objek sekeliling objek utama :

Kanan = rumah (Tanpa jarak)

Kiri = toko (Tanpa jarak)

Belakang = toko (Jarak 1 meter)

Depan = Toko (Jarak 10 meter)

Pihak asuransi akan menilai apakah toko yang ada di sebelah kiri tersebut memiliki resiko kerugian yang besar atau tidak. Misalnya toko tersebut menjual banyak gas elpiji yang jumlah mencapai ribuan di dalamnya. Setelah disurvey dan dipertimbangkan ternyata resiko toko tersebut sangat besar, maka tarif rumah tersebut akan diubah menjadi tarif toko yang nilainya kurang lebih 4 permill (4 per seribu).

Tarif Resiko Tambahan

Kami menyebutnya tarif resiko tambahan, karena biasanya hal ini melihat resiko tambahan yang ada di dalam objek pertanggungan. Resiko tambahan ini tentunya yang memiliki tingkat kemungkinan resiko yang lebih besar dari objek utama.

Resiko tambahan dapat berupa barang-barang dengan resiko tinggi. Biasanya barang dengan resiko mudah meledak memiliki resiko yang tinggi. Contohnya adalah minyak tanah, gas elpiji, bahan kimia yang mudah meledak dan lain sebagainya.

Bahan mudah meledak memiliki tarif resiko yang cukup tinggi. Sehingga seringkali rumah tinggal pun yang memiliki tarif resiko yang tinggi jika di dalamnya terdapat bahan mudah meledak, memiliki tarif resiko yang tinggi pula.

Contoh :

Resiko utama : Rumah tinggal

Tarif resiko : 0,58 permill (per seribu)

Resiko Tambahan :

Tabung gas elpiji 10 kilo = 10 buah. Bahan kimia air keras = 100 meter kubik.

Dua buah jenis resiko ini berada di belakang rumah yang jaraknya kurang lebih 1 meter dan ditempatkan di bangunan tersendiri. Maka tarif resiko rumah tinggal bisa lebih tinggi dari tarif standar rumah tinggal. Misalnya tarif resiko rumah tinggal tersebut ditambah menjadi 5 permill (per seribu).

Maka tarif totalnya = 0,58 permill + 5 permill = 5,58 permill

Objek pertanggungan

Objek pertanggungan adalah objek yang diasuransikan kepada penanggung yang harus dimiliki oleh tertanggung atau di bawah kepentingan tertanggung. Contohnya rumah, mobil, sepeda motor, kesehatan dan masih banyak lainnya.

Harga pertanggungan

Setiap barang atau hal lainnya (misalnya kesehatan) yang diasuransikan harus bisa dinilai dengan uang, atau setidak-setidaknya dapat diprediksi dengan nilai uang.

Misalnya untuk asuransi kesehatan tidak ada batasan berapa nilai yang dapat diasuransikan. Maka nilainya adalah berdasarkan taksiran dan kemampuan dari tertanggung dan penanggung. Jika tertanggung sanggup untuk membayar nilai preminya dan penanggung sanggup untuk menanggung klaim yang terjadi jika terjadi kerugian, maka asuransinya bisa sah. Misalnya seseorang bisa mengansuransikan kesehatannya senilai Rp. 10 juta atau bahkan Rp. 100 juta.

Berbeda halnya dengan asuransi kerugian seperti mobil dan sepeda motor. Nilai pertanggungannya harus sesuai dengan harga mobil dan sepeda motor ketika diasuransikan. Misalnya harga mobil saat ini adalah Rp. 100 juta, maka harga pertanggungan yang bisa diasuransikan nilainya adalah Rp. 100 juta.

Perjanjian asuransi

Perjanjian asuransi biasanya berisi hal-hal yang dicover oleh asuransi beserta semua klausula dan syarat-syaratnya . Perjanjian ini biasanya ditandatangani oleh penanggung.

Surat pengajuan permohonan asuransi

Setiap tertanggung diharuskan untuk mengisi surat pengajuan permohonan asuransi (SPPA). SPPA ini akan menjadi dasar dibuatnya perjanjian asuransi yang mengikat antara penanggung dan tertanggung.

Klaim

Klaim adalah besaran kerugian yang diderita oleh tertanggung dan harus diganti oleh penanggung. Dalam hal terjadi klaim, biasanya setiap tertanggung harus ikut serta menanggung kerugian yang besarnya bisa bervariasi yang biasa disebut kerugian yang ditanggung sendiri.

Contoh :

Nilai klaim Rp. 100 juta. Besaran kerugian yang harus ditanggung sendiri misalnya 10%. Maka besaran klaim yang harus dibayarkan oleh penanggung adalah sesuai dengan perhitungan berikut :

Klaim = Rp. 100 juta Resiko sendiri = 10 % = Rp. 100 juta x 10 % = Rp. 10 juta. Klaim yang harus dibayar penanggung = Rp. 100 juta - Rp. 10 juta = Rp. 90 juta

Surveyor

Surveyor bertugas untuk melakukan survey terhadap objek yang akan diasuransikan. Semakin tinggi resikonya dan semakin tinggi nilai pertanggungannya, dibutuhkan keahlian surveyor yang dapat melihat cover apa saja yang dimungkinkan untuk objek pertanggungan terkait.

Kesimpulan

Hal-hal yang dituliskan diatas hanyalah pengetahuan secara umum tentang apa itu asuransi dan hal-hal apa saja yang terkait di dalam asuransi. Mudah-mudahan bermanfaat.

Leave a Comment

comments powered by Disqus